Pergelaran Bantengan “Banteng Wareng” Madyopuro Malang: Telaah Antropologi Kesenian

hanifati alifa radhia
  JSBN, pp. 117-123  

Abstract


Penelitian ini merupakan studi antropologi kesenian mengenai pergelaran Bantengan kelompok “Banteng Wareng” di Kelurahan Madyopuro, Kota Malang. Bantengan merupakan perpaduan pertunjukan tari, olah kanuragan, serta atraksi hewan banteng yang dimainkan oleh dua orang sebagai kepala dan ekor. Atraksi utama pergelaran Bantengan adalah adanya roh leluhur yang memasuki tubuh para pemain sehingga terjadi trance (kesurupan). Pergelaran Bantengan melibatkan praktik magis tengah populer di era globalisasi. Dalam antropologi kesenian dikenal pendekatan konteks yakni mendeskripsikan fenomena kesenian yang menekankan pada sisi sosial-kultural. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan pengamatan (observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Hasil penelitian menunjukkan adanya dimensi-dimensi pada pergelaran Bantengan“Banteng Wareng” di Kelurahan Madyopuro. Pertama, dimensi sosial, yakni pergelaran Bantengan di Madyopuro hidup dan tumbuh atas inisiatif warga setempat untuk menghidupkan kegiatan lingkungan serta berfungsi sebagai hiburan. Kedua, dimensi kultural, yakni  Bantengan memuat tradisi budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga saat ini. Tradisi tersebut tampak dalam praktik ritual sebelum pergelaran Bantengan yang dilakukan di pohon beringin. Di pohon beringin inilah berdiam arwah leluhur yang dipercaya sebagai pembabat alas Desa Madyopuro. Praktik-praktik dalam pergelaran Bantengan ini tidak rasional, di luar nalar manusia, serta mengandung sisi magis. Fenomena sosial-budaya dalam pergelaran Bantengan dapat didekonstruksi dalam sudut pandang posmodernisme. Pemikiran posmodernisme menghargai, menggali kearifan masa lalu dan bersikap mendengar segala pemikiran yang dianggap tabu, irasional, mistis dan magis. Seperti halnya pergelaran Bantengan yang diberi nafas kehidupan oleh kelompok“Banteng Wareng”, sejatinya menandai adanya gerakan revitalisasi budaya.

Keywords


Bantengan, Pergelaran, Antropologi Kesenian, Posmodernisme, Revitalisasi

Full Text:

PDF

References


Ahimsa-Putra, Heddy Shri. (2000). Ketika Orang Jawa Nyeni. Yogyakarta: Galang Press.

Desprianto, Ruri D. (2013). Kesenian Bantengan Mojokerto Kajian Makna Simbolik dan Nilai Moral. E-Journal Pendidikan Sejarah UNESA AVATARA, Volume 1, No 1, 150-163. Diakses pada tanggal 5 November 2014 dari http://ejournal.unesa.ac.id/

Kayam, Umar. (2000). “Pertunjukan Rakyat Tradisional Jawa dan Perubahan” dalam Heddy Shhri Ahimsa-Putra (Ed.) Ketika Orang Jawa Nyeni (339-396). Yogyakarta: Galang Press.

Kewuel, Hipolitus K. (2004). Allah dalam Dunia Posmodern. Malang: Penerbit Dioma.

Maulana, M. Lutfi Syifa. (2014).Tradisi Bantengan dan Modernisasi Studi Tentang Eksistensi Tradisi Bantengan di Dusun Banong Desa Gebangsari Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto. Diakses pada tanggal 2 April 2015 dari http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/311

Sari, Catharina. A. D dan Sukarman (2014). Kesenian Bantengan Ing Tlatah Kabupaten Kediri Lan Kabupaten Mojokerto (Antropologi Simbolik). E-journal UNESA BARADHA, 2(3). Diakses pada tanggal 5 November 2014 dari http://ejournal.unesa.ac.id/

Simatupang, Lono. (2013). Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Sosial Budaya. Yogyakarta: Jalasutra

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Penerbit Alfabeta.

Triratnawati, dkk Atik. (2012). Revitalisasi Kesenian Sintren di Kota dan Kabupaten Pekalongan. Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB).

Wallace, Anthony F. C. (1956) “Revitalization Movements,” American Anthropologist 58 (2): 264–81.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.