FUNGSI TRADISI BEDAH BLUMBANG DALAM PELESTARIAN AREA KONSERVASI AIR DI KAKI GUNUNG UNGARAN KABUPATEN SEMARANG

Reny Wiyatasari, Afidatul Lathifah
  JSBN, pp. 1-21  

Abstract


Tradisi bedah blumbang yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Gintungan di kaki Gunung Ungaran merupakan rangkaian upacara merti dusun atau sering dikenal dengan tradisi bersih desa. Artikel ini membahas bagaimana peran tradisi bedah blumbang dalam praktek konservasi sumber daya air di kaki Gunung Ungaran serta makna tradisi tersebut pada masyarakat Dusun Gintungan. Praktek tradisi bedah blumbang telah mengalami berbagai perubahan serta improvisasi pelaksanaannya, mulai dari tata acara, kelengkapan upacara, hingga keterlibatan masyarakat. Tidak hanya masayarakat Dusun Gintungan saja yang terlibat, tetapi juga para pemangku kebijakan di tingkat pemerintahan. Bedah blumbang juga menjadi salah satu atraksi wisata di Dusun Gintungan. Keberlimpahan air di Dusun Gintungan juga belum terkelola dengan baik, warga masih menganggap air adalah sumber daya yang tidak akan habis sehingga warga cenderung menggunakannya tanpa batas. Akan tetapi, mitos-mitos yang berkembang di masyarakat seputar sumber mata air menjadi pengontrol masyarakat dalam memanfaatka sumber daya alam sekitar mereka, khususnya sumber daya air. Bedah blumbang kini berfungsi sebagai penjaga tradisi, penjaga kerukunan antar warga, ajang berwisata, dan sebagai pengingat leluhur mereka. proses konservasi lingkungan secara tidak langsung terjadi pada saat mengingat mitos tentang leluhur, dengan demikian warga terus menjaga kelestarian blumbang yang menjadi sumber mata air bagi warga Dusun Gintungan dan sekitarnya. Penelitian ini adalah penelitan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Wawancara mendalam dan observasi dimaksudkan untuk mendapatkan data primer.

Keywords


Konservasi, merti desa Gintungan, bedah blumbang, sumber daya air

Full Text:

File

References


Crate, Susan A, and Mark Nuttall, eds..

Anthropology and Climate Change, from Encounter to Actions. California: Left Coast Press

Crevello, Stacey.

Dayak Land Use System and Indigenaous Knowledge. dalam

Journal Human Ecology vol. 16 (2) 2004. USA : Lousiana State

University

Dove, Michael R and Carol Carpenter.

Enviromental Anthropology: A History Reader. Oxford: Blackwell Publisihing

Effendi, Sofian, dkk.

Membangun Martabat Manusia: Peranan Ilmu-ilmu Sosial dalam Pembangunan. Yogyakarta: UGM Press

Firth, Raymond.

Critical Pressure on Food Supply and Their Economic Pressure. dalam Enviromental Anthropology: A History Reader. Oxford: Blackwell Publisihing

Harris, Marvin.

The Cultural Ecology of India’s Sacred Cattle. dalam Enviromental Anthropology: A History Reader. Oxford: Blackwell Publisihing

Li, Tania M.

Adat di Sulawesi Tengah: Penerapan Kontemporer. dalam Adat dalam Politik Indonesia. Eds. Jamie S. Davidson, David Henley, Sandra Moniaga. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Little, Paul.E.

“Environments and Enviromentalism in Anthropological Research:Facing A New Millenium”. In Annual Review of Anthropology Vol. 28

Nawawi, Haddari, dkk.

Penelitian Terapan.Yogyakarta: UGM Press

Spradley, James P.

Metode Etnografi, ter. Elizabeth Misbah Zulfa. Yogyakarta: Tiara Wacana

Yogya

Pritchard, E.E. Evans.

Interest in Cattle. dalam Enviromental Anthropology: A History

Reader. Oxford: Blackwell Publisihing

Wadley, Rite L.

Sacred Forest, Hunting and Conservation in West Kalimantan,

dalam Human Ecology vol 2 (3) 2004.

http://www.jstor.org/stable/4603520


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.