AKOMODASI DAN KONTESTASI RUANG BUDAYA DI UDARA: KASUS SIARAN BUDAYA DI RRI KENDARI, SULAWESI TENGGARA

Benny Baskara
  JSBN, pp. 84-91  

Abstract


Abstrak

Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai stasiun radio milik pemerintah membentuk saluran tersendiri bagi siaran-siaran budaya dari seluruh Indonesia yang ditayangkan dalam Programa 4 RRI. Pembentukan Programa 4 RRI yang mengkhususkan pada siaran-siaran budaya tersebut merupakan suatu bentuk akomodasi pemerintah terhadap keanekaragaman budaya di Indonesia, termasuk di RRI Kendari sebagai perwakilan RRI di Sulawesi Tenggara. Tulisan ini akan memaparkan akomodasi dan kontestasi siaran kebudayaan dari berbagai etnis di Programa 4 RRI Kendari. Programa 4 RRI yang menyiarkan kebudayaan dari berbagai kelompok etnis besar di Sulawesi Tenggara, yaitu etnis Tolaki, Buton, Muna, Moronene, Bugis, Makassar, Bajo, Jawa, Sunda, dan Bali. Namun demikian, ternyata siaran budaya di Programa 4 RRI Kendari tidak hanya sebagai sarana akomodasi dari berbagai etnis di Sulawesi Tenggara, tetapi juga terjadi kontestasi budaya antar etnis di udara dalam program tersebut. Sebelum ditayangkan di Programa 4, siaran budaya ini ditayangkan di Programa 1 RRI Kendari, yang daya jangkau siarannya lebih luas serta fasilitasnya lebih lengkap, termasuk sarana siaran interaktif. Sementara itu, Programa 4 merupakan saluran yang belum lama dibentuk oleh RRI Kendari, sehingga daya jangkau siaran serta fasilitasnya masih terbatas, termasuk belum adanya sarana interaktif. Keterbatasan fasilitas Programa 4 inilah yang menyebabkan masing-masing etnis di Sulawesi Tenggara merasa tidak lagi terakomodasi ruang budayanya dalam siaran-siaran RRI Kendari bila dibandingkan waktu masih disiarkan di Programa 1.

Abstract

Radio Republik Indonesia (RRI) as state-owned radio station creates a special channel for cultural programs from various ethnic groups in Indonesia in Programme 4. The establishment of Programme 4 as the special channel for cultural programs is a form of accommodation from Indonesian government toward various ethnic groups in Indonesia, including in RRI Kendari as a branch of RRI in Southeast Sulawesi Province. This paper will describe the accommodation and contestation of cultural programs in Programme 4 RRI Kendari. Programme 4 RRI Kendari broadcast cultural programs from main ethnic groups in Southeast Sulawesi: Tolaki, Buton, Muna, Moronene, Bugis, Makassar, Bajo, Java, Sunda, and Bali.

However, the cultural programs in Programme 4 RRI Kendari not only serve as a means for accommodation toward various ethnic groups in Southeast Sulawesi, but contestation is also happened among themselves in these cultural programs. Before they are broadcasted in Programme 4, these cultural programs were broadcasted in Programme 1, which has wider range and has more complete facilities, including interactive facility. Meanwhile, as a new channel, Programme 4 do not have wide range of broadcasting capacity as in Programme 1, and its facilities are still limited. The limitation of Programme 4 facilities makes various ethnic groups in Southeast Sulawesi feel no longer accommodated in cultural programs of RRI Kendari as it was broadcasted in Programme 1 before. 

 


Keywords


Akomodasi, Kontestasi, Ruang Budaya, Siaran Budaya, RRI Kendari;Accommodation, Contestation, Cultural Space, Cultural Programs, RRI Kendari

Full Text:

PDF

References


Jalil, A. Mempromosikan Multikulturalisme pada Program “Rentak Pelangi Bumi Anoa” di Radio Republik Indonesia Kendari Sulawesi Tenggara. Prosiding Simposium Bahasa-Bahasa Lokal, Nasional, dan Global. Kendari: UHO dan APBL; 2016.

Jalil, A., Jers, LT. Bersama dalam Keberagaman (Belajar Multikulturalisme melalui Program Kebhinekaan RRI Kendari). In: Kewuel, et.al. Pluralisme, Multikulturalisme, dan Batas-batas Toleransi. Malang: Jurusan Antropologi Universitas Brawijaya; 2017. p.51-58.

Heryanto, A. Identitas dan Kenikmatan. Jakarta: KPG; 2015.

Llorente, JA. Introduction. UNO. No. 27, 2017. p.9.

Modreanu, S. The Post-Truth Era? HSS, vol. VI, no. 3, 2017. p.7-9.

Piliang, YA. Posrealitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Jalasutra; 2004.

Piliang, YA. Transpolitika, Dinamika Politik di dalam Era Virtualitas. Yogyakarta: Jalasutra; 2005.

Sismondo, S. Post-Truth? SSS, Vol. 47 No.1, 2017. p 3–6.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.